Konsultan sertifikasi DJID (Postel / SDPPI) sejak 2008 +62 21 2784 3242 Hubungi kami
NarmadiConsultant Konsultasi gratis

Mengenal Data Logger: Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, dan Regulasi

Mengenal Data Logger: Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, dan Regulasi

Di banyak sektor seperti industri, lingkungan, hingga riset ilmiah, pencatatan data yang konsisten dan akurat menjadi kebutuhan penting. Data logger hadir sebagai alat pencatat otomatis yang merekam data dalam jangka waktu tertentu tanpa perlu diawasi terus-menerus.

Meski wujudnya kecil dan sering tersembunyi di balik sistem yang lebih besar, perangkat ini menjadi komponen kunci dalam memantau suhu, kelembapan, tegangan listrik, atau parameter lain yang vital untuk operasional dan analisis.

Kalau Anda sedang mencari informasi lengkap tentang apa itu data logger, cara kerja, manfaat, jenis-jenisnya, cara ketja hingga regulasi teknisnya di Indonesia, artikel ini akan membantu Anda memahaminya secara menyeluruh.

Apa itu Data Logger?

Secara sederhana, data logger adalah alat elektronik yang digunakan untuk merekam data dari waktu ke waktu secara otomatis. Ia bisa mencatat berbagai parameter seperti suhu, kelembapan, tekanan udara, arus listrik, hingga getaran, tergantung jenis dan aplikasinya.

Keunggulannya? Ia bekerja secara mandiri tanpa perlu diawasi terus-menerus. Data yang dikumpulkan bisa disimpan di memori internal atau dikirim langsung ke server/cloud melalui koneksi nirkabel seperti Bluetooth, GSM, atau bahkan jaringan LTE.

Fungsi dan Manfaat

Fungsi utamanya tentu saja sebagai alat pencatat data otomatis. Tapi manfaatnya jauh lebih luas, antara lain:

  • Monitoring lingkungan: Mencatat suhu dan kelembapan di ruang penyimpanan, laboratorium, atau gudang.
  • Pengujian produk: Memantau performa alat selama proses uji coba atau sertifikasi.
  • Kontrol kualitas: Menjamin standar produksi di sektor manufaktur.
  • Pemantauan transportasi: mengawasi kondisi barang selama pengiriman, terutama untuk produk yang sensitif terhadap suhu.

Karena kemampuannya dalam mencatat data secara konsisten dan presisi, alat ini sering digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data  atau data-driven decision making.

Kegunaan di Dunia Industri

Di sebuah ruang produksi, mesin berputar tanpa henti, suhu ruangan harus stabil, dan listrik terus mengalir. Semua detail kecil itu menentukan apakah produk yang dihasilkan bisa memenuhi standar atau justru gagal. Nah, di balik layar, ada satu perangkat kecil yang bekerja diam-diam untuk memastikan semua informasi itu tercatat dengan rapi, yaitu data logger.

Kegunaan alat ini di dunia industri tidak bisa dianggap sepele. Alat ini mampu mencatat suhu, kelembapan, tekanan, getaran, sampai konsumsi energi secara otomatis. Tanpa perangkat ini, teknisi harus mencatat manual setiap jam yang mana itu melelahkan, rawan salah, dan tidak efisien.

Mari kita lihat lebih dekat bagaimana alat elektronik ini membantu banyak sektor industri.

1. Menjaga stabilitas lingkungan produksi

Bayangkan gudang vaksin yang harus dijaga suhunya tetap dingin. Jika suhunya naik hanya beberapa derajat, kualitas vaksin bisa menurun drastis. Atau pabrik makanan beku yang bergantung pada kelembapan stabil agar produknya tidak cepat rusak.

Di sinilah alat ini berperan sebagai “mata yang selalu waspada”. Setiap perubahan suhu atau kelembapan langsung tercatat. Kalau ada lonjakan, teknisi bisa tahu kapan itu terjadi dan segera mencari penyebabnya.

Catatan ini juga jadi bukti berharga ketika perusahaan diaudit, membuktikan bahwa standar penyimpanan memang dijaga dengan ketat.

2. Meringankan pencatatan data harian

Bagi teknisi, mencatat kondisi mesin setiap jam bukan pekerjaan mudah. Bayangkan harus menulis angka-angka voltase, suhu, atau tekanan berulang kali selama sebulan penuh. Selain menyita waktu, risiko salah catat juga besar.

Dengan alat ini, pekerjaan itu jadi jauh lebih ringan. Perangkat ini mencatat data otomatis 24 jam penuh tanpa lelah. Hasilnya, teknisi bisa lebih fokus ke hal yang lebih penting seperti menganalisis data, merencanakan perawatan mesin, atau memastikan produksi berjalan lancar.

3. Mendukung penelitian dan eksperimen

Tidak semua kegunaannya terbatas di pabrik. Di dunia penelitian, alat ini juga sangat membantu. Misalnya, peneliti lingkungan yang ingin memantau kualitas air sungai sepanjang musim hujan, atau tim uji coba mesin baru yang butuh data real-time dari lapangan.

Dengan data logger, semua bisa tercatat tanpa harus diawasi manusia setiap saat. Data yang terkumpul pun konsisten, rapi, dan bisa dipakai sebagai bukti ilmiah. Bahkan, untuk eksperimen jangka panjang, alat ini sering jadi “asisten setia” yang bekerja nonstop ketika peneliti sudah pulang dari lokasi.

4. Membantu efisiensi energi

Energi listrik adalah salah satu biaya besar di industri. Tanpa catatan yang detail, sulit mengetahui bagian mana yang paling boros.

Ala elektronik ini memberikan gambaran jelas, mulai dari kapan konsumsi listrik paling tinggi, mesin mana yang menyedot energi berlebihan, atau apakah ada pola penggunaan yang tidak efisien. 

Dari situ, manajemen bisa menyusun strategi penghematan, seperti mengatur ulang jadwal produksi atau memperbarui mesin yang boros energi. Hasilnya bukan hanya biaya turun, tapi juga lebih ramah lingkungan.

5. Menjamin kepatuhan terhadap regulasi

Bagi industri farmasi dan pangan, regulasi soal pencatatan data sangat ketat. Misalnya, penyimpanan obat atau bahan makanan harus selalu berada pada rentang suhu tertentu. Jika tidak, bisa berakibat fatal, baik bagi kualitas produk maupun reputasi perusahaan.

Dengan alat inir, perusahaan punya bukti kuat untuk ditunjukkan saat audit. Catatan suhu atau kelembapan bisa dilihat secara detail dari waktu ke waktu. Dokumentasi otomatis ini jauh lebih meyakinkan dibanding catatan manual yang rawan hilang atau dipalsukan.

6. Menyediakan data historis untuk analisis tren

Selain mencatat kondisi saat ini, data logger juga menyimpan rekam jejak jangka panjang. Dari data historis inilah tren bisa dianalisis.

Misalnya, suhu ruang produksi yang selalu naik di musim tertentu bisa jadi sinyal perlunya pendingin tambahan. Atau getaran mesin yang perlahan meningkat bisa menjadi tanda awal kerusakan. 

Dengan alt ini, perusahaan bisa mengambil langkah pencegahan sebelum masalah berkembang lebih besar dan mengganggu jalannya produksi.

Dari gudang penyimpanan vaksin, laboratorium penelitian, hingga pabrik makanan, kegunaan alat ini selalu sama, yaitu memberikan data yang akurat, konsisten, dan siap dipakai kapan pun dibutuhkan. 

Tidak heran kalau banyak perusahaan kini menganggap alat ini sebagai perangkat wajib. Dengan pencatatan yang bisa diandalkan, mereka lebih siap menghadapi tantangan sekaligus lebih efisien dalam mengelola operasional sehari-hari.

Jenis-Jenis yang Banyak Digunakan di Industri

Produk ini hadir dalam berbagai jenis, tergantung pada parameter yang ingin dicatat dan metode koneksi yang digunakan. Secara umum, perangkat ini dapat dikategorikan menjadi beberapa tipe berikut:

  • Temperature & humidity: Paling sering digunakan untuk industri makanan, farmasi, dan gudang penyimpanan.
  • Voltage & current: Untuk memantau performa peralatan listrik atau jaringan distribusi daya.
  • Vibration: Biasanya digunakan untuk memantau mesin dan deteksi dini kerusakan.
  • Multi-channel logger: Bisa merekam banyak parameter sekaligus.
  • Wireless logger: Menggunakan Bluetooth, WiFi, atau jaringan seluler (GSM, LTE) untuk mengirim data secara real-time.

Dengan memilih tipe yang tepat, perusahaan bisa mendapatkan catatan yang lebih akurat, mempermudah analisis, dan tentu saja menghemat biaya operasional. 

Mari kita bahas beberapa jenis data logger yang paling sering digunakan.

1. Data logger suhu dan kelembapan

Jenis ini mungkin yang paling populer. Ia dipakai di gudang farmasi, ruang penyimpanan makanan beku, hingga ruang arsip penting. Alat pencatat suhu dan kelembapan berfungsi mencatat perubahan sekecil apa pun yang terjadi di lingkungan penyimpanan.

Misalnya, dalam penyimpanan vaksin, kenaikan suhu hanya beberapa derajat saja bisa menurunkan kualitas produk. Dengan alat ini, semua perubahan bisa langsung tercatat, sehingga teknisi tahu kapan masalah muncul dan bisa segera menanganinya.

2. Pencatat Data Tekanan

Industri minyak, gas, atau kimia sering menggunakan alat pencatat tekanan ini. Tekanan di dalam pipa atau tangki harus selalu dipantau agar tetap aman. Jika ada lonjakan yang tidak wajar, catatan dari alat ini bisa jadi alarm awal sebelum terjadi kerusakan serius.

Menariknya, beberapa alat data jenis tekanan juga digunakan di bidang penelitian lingkungan. Misalnya untuk memantau tekanan air tanah atau sistem distribusi cairan. Dalam konteks ini, konsep level probing radar juga sering dipakai untuk mengukur ketinggian cairan di tangki atau wadah besar. Meski berbeda alat, prinsipnya sama, yaitu mengumpulkan data akurat untuk mencegah risiko di lapangan.

3. Pencatat Data Getaran

Mesin produksi besar biasanya mengeluarkan getaran. Dalam kondisi normal, getaran itu wajar. Tapi kalau frekuensinya berubah, bisa jadi tanda ada komponen yang mulai aus.

Jenis alat pencatat getaran ini membantu teknisi menemukan gejala kerusakan lebih cepat. Alih-alih menunggu mesin benar-benar rusak, alat ini merekam pola getaran dari waktu ke waktu. Dengan begitu, tim perawatan bisa melakukan tindakan preventif sebelum masalah berkembang lebih besar.

4. Pencatat data energi atau listrik

Energi listrik adalah salah satu pos biaya terbesar dalam industri. Karena itu, banyak perusahaan memasang alat pencatat khusus untuk mencatat konsumsi listrik.

Jenis alat pencatat ini menunjukkan kapan pemakaian energi paling tinggi, mesin mana yang paling boros, dan bagian mana yang bisa dihemat. Informasi ini sangat berharga untuk menyusun strategi efisiensi energi. Misalnya dengan mengatur ulang jadwal produksi atau mengganti mesin lama yang terlalu banyak menyedot daya.

5. Alat Pencatat multi-channel

Kalau perusahaan butuh mencatat banyak parameter sekaligus, misalnya suhu, kelembapan, tekanan, dan arus listrik, maka data logger multi-channel adalah pilihan tepat. Satu perangkat bisa menangani beberapa sensor sekaligus, sehingga lebih efisien.

Jenis ini sering dipakai di industri besar yang proses produksinya kompleks. Dengan satu alat, semua data terekam rapi dan bisa langsung dianalisis secara bersamaan. Hasilnya, pengambilan keputusan jadi lebih cepat dan berdasarkan informasi yang lengkap.

Setiap jenis alat pencatat punya kegunaan berbeda. Industri farmasi tentu lebih fokus pada alat pencatat suhu dan kelembapan. Sementara pabrik manufaktur mungkin lebih mengandalkan jenis pencatat getaran untuk menjaga mesin tetap awet. Perusahaan energi dan kimia tidak bisa lepas dari alat pencatat tekanan maupun alat pencatat listrik.

Intinya, pemilihan alat pencatat harus disesuaikan dengan kebutuhan spesifik. Salah memilih jenis bisa membuat data yang terkumpul tidak relevan, sehingga mengurangi kegunaan alat itu sendiri.

Pada akhirnya, memahami berbagai jenis data logger bukan hanya soal mengenal alat, tapi juga tentang bagaimana sebuah industri menjaga kualitas, efisiensi, dan keamanan operasionalnya. Dari memantau suhu di gudang vaksin, mencatat tekanan dalam pipa, hingga menganalisis konsumsi energi, setiap tipe punya peran krusial yang tidak bisa digantikan. 

Dengan memilih alat yang sesuai kebutuhan, perusahaan bukan hanya mendapat catatan akurat, tapi juga fondasi kuat untuk mengambil keputusan strategis. Itulah mengapa alat ini layak disebut sebagai investasi jangka panjang bagi industri yang ingin tetap kompetitif dan berkelanjutan.

Prinsip Kerja

Prinsip dasar dari alat ini adalah mengumpulkan, menyimpan, dan mentransmisikan data dari sensor ke media penyimpanan atau platform digital. Di dalam perangkat ini, terdapat sensor yang bertugas menangkap parameter tertentu, seperti suhu, kelembapan, tegangan listrik, atau tekanan udara.

Setelah sensor mendeteksi data, informasi tersebut langsung diteruskan ke mikrokontroler internal yang mengatur proses pencatatan berdasarkan interval waktu yang telah ditentukan. Data kemudian disimpan di memori internal atau dikirimkan secara otomatis melalui koneksi seperti Bluetooth, GSM, WCDMA, atau LTE.

Beberapa model juga dibekali kemampuan pengolahan awal (pre-processing), seperti filtering atau penghitungan rata-rata, sebelum data ditampilkan atau diunggah ke sistem monitoring. Dengan sistem kerja seperti ini, alat ini memungkinkan pengguna untuk memantau kondisi secara real-time atau historis tanpa perlu intervensi manual yang berulang.

Cara Kerja

Data logger merupakan perangkat andalan di industri modern untuk menjaga kualitas dan efisiensi produksi. Alat ini bekerja secara otomatis mulai dari pengukuran parameter oleh sensor, konversi sinyal listrik, pemrosesan mikroprosesor, hingga perekaman dan analisis data. Memahami cara kerja alat ini membantu perusahaan mengoptimalkan pemantauan sistem secara real-time serta mengambil keputusan operasional yang tepat.

Mari kita ulas cara kerja kenapa data logger jadi andalan di industri modern.

1. Sensor melakukan pengukuran

Semua dimulai dari sensor. Alat ini dibekali sensor yang peka terhadap kondisi tertentu, seperti suhu, kelembapan, tekanan, tegangan listrik, atau getaran. Sensor inilah yang berfungsi sebagai “mata dan telinga” di lapangan.

Contohnya, di gudang penyimpanan farmasi, sensor suhu akan langsung mendeteksi bila terjadi perubahan sekecil apa pun. Informasi ini kemudian dikirim ke sistem internal data logger untuk diproses lebih lanjut.

2. Konversi jadi sinyal listrik

Begitu sensor menangkap perubahan, ia mengubahnya menjadi sinyal listrik. Mengapa? Karena sinyal listrik bisa diproses secara elektronik. Tahap ini adalah jembatan agar kondisi nyata di lapangan, misalnya suhu dingin atau tekanan tinggi, dapat diterjemahkan dalam bentuk data.

3. Pemrosesan oleh mikroprosesor

Sinyal listrik yang diterima sensor masih berupa data mentah. Mikroprosesor internal data logger lalu mengolah sinyal tersebut menjadi data digital. Proses inilah yang memungkinkan informasi bisa dibaca, disimpan, bahkan dianalisis oleh manusia maupun perangkat lunak.

Bayangkan kalau sinyal mentah dibiarkan begitu saja, hasilnya tentu sulit dimengerti. Dengan adanya pemrosesan ini, alat ini bisa menyajikan catatan yang konsisten dan mudah dipahami.

4. Perekaman data secara otomatis

Setelah dikonversi, data digital disimpan ke dalam memori internal. Ada alat yang menyimpan dengan kartu SD sederhana, ada juga yang terhubung langsung ke komputer atau server perusahaan.

Poin pentingnya adalah pencatatan berlangsung otomatis sesuai interval yang ditentukan. Bisa setiap menit, setiap jam, bahkan setiap detik. Sistem ini mengurangi risiko kelalaian manusia yang sering terjadi bila pencatatan masih dilakukan secara manual.

5. Transfer data ke perangkat lain

Ketika data sudah terkumpul, pengguna bisa memindahkannya ke perangkat eksternal seperti laptop, tablet, atau smartphone. Proses transfer pun fleksibel, bisa lewat kabel USB atau sambungan nirkabel seperti Bluetooth dan WiFi.

Cara ini memudahkan teknisi maupun manajer untuk mengakses data kapan saja, bahkan dari jarak jauh. Hasilnya, monitoring bisa dilakukan lebih cepat dan keputusan pun diambil berdasarkan informasi real-time.

6. Analisis data lebih lanjut

Tahap akhir adalah analisis. Data yang sudah ditransfer bisa diproses menggunakan software khusus untuk divisualisasikan dalam bentuk grafik atau tabel. Dari sini, perusahaan bisa melihat pola dan tren.

Misalnya, konsumsi listrik mesin tertentu ternyata selalu meningkat di jam sibuk. Atau suhu ruangan produksi naik setiap siang hari. Temuan-temuan ini membantu perusahaan menyusun strategi penghematan energi, menambah pendingin, atau melakukan perawatan mesin lebih dini.

Aplikasi Nyata di Lapangan

Cara kerja yang sederhana namun efektif membuatnya digunakan di banyak sektor. Di industri makanan, alat ini memastikan suhu penyimpanan tetap stabil. Di manufaktur, alat pencatat getaran ini membantu teknisi mendeteksi potensi kerusakan mesin. Sementara di sektor energi, pencatatan konsumsi listrik menjadi kunci untuk efisiensi biaya.

Setiap industri tentu memiliki kebutuhan berbeda. Karena itu, memilih perangkat yang sesuai sangat penting. Ada beberapa jenis alat yang dirancang khusus untuk fungsi tertentu, seperti alat pencatat suhu, tekanan, hingga multi-channel yang bisa mencatat banyak parameter sekaligus.

Integrasi dengan Instrumen Lain

Menariknya, alat ini juga bisa dipasangkan dengan alat ukur lain. Contoh nyata ada pada industri kimia atau distribusi cairan, di mana alat ini bekerja berdampingan dengan sensor tekanan atau bahkan flowmeter elektromagnetik untuk memantau laju aliran. Integrasi semacam ini membuat hasil monitoring semakin detail, sehingga potensi masalah bisa diantisipasi lebih cepat.

Kesimpulannya, cara kerja alat ini dimulai dari sensor yang mendeteksi parameter, dilanjutkan dengan konversi sinyal, pemrosesan digital, penyimpanan otomatis, hingga analisis data. Tahapan sederhana ini menjadikannya tulang punggung pencatatan modern di industri.

Dengan memahami alurnya, perusahaan bisa lebih bijak dalam memilih perangkat, menghindari kesalahan investasi, dan memastikan data yang terkumpul benar-benar relevan. Pada akhirnya, data logger bukan sekadar pencatat angka, melainkan kunci untuk menjaga kualitas, keamanan, dan efisiensi produksi di era industri modern.

Regulasi di Indonesia

Karena banyak alat dan perangkat memiliki fitur konektivitas nirkabel seperti Bluetooth dan jaringan seluler, perangkat ini masuk kategori alat dan/atau perangkat telekomunikasi yang wajib disertifikasi di Indonesia.

Berikut adalah regulasi yang perlu diperhatikan:

  • Bluetooth: Wajib mengikuti Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika (KEPMEN KOMINFO) Nomor 260 Tahun 2024. 
  • GSM dan WCDMA: Mengacu pada Keputusan Menteri Komunikasi dan Digital (KEPMEN KOMDIGI) Nomor 45 Tahun 2025. 
  • LTE (4G): Diatur dalam Keputusan Menteri Komunikasi dan Digital (KEPMEN KOMDIGI) Nomor 352 Tahun 2024.

Persyaratan teknis

Bluetooth

Pita Frekuensi OperasiDaya PancarEmisi SpuriousMetode Testing
2400 – 2483.5≤ 20 dBm EIRPEN 300 440EN 300 440

GSM

AspekPersyaratan Tenis
Frekuensi radioBeroperasi pada pita frekuensi:
– GSM 850: Uplink 824–849 MHz, Downlink 869–894 MHz.
– P-GSM 900, E-GSM 900, R-GSM 900, ER-GSM 900 dengan rentang masing-masing sekitar 873–960 MHz.
– DCS 1800: Uplink 1710–1785 MHz, Downlink 1805–1880 MHz.
Output powerMemenuhi batas maksimum pada klausul 4.2.5 ETSI EN 301 511 dan tabel pada ETSI TS 151 010-1.
Output RF spectrumSidebands modulation dan wide band noise harus memenuhi batas tertentu berdasarkan pita frekuensi, diatur dalam dokumen ETSI terkait (EN 301 511, TS 151 010-1).
Spurious emissionConducted transmitter spurious emission sesuai batas pada tabel dokumen ETSI TS 151 010-1 dan ETSI EN 301 511.
Frequency errorTidak melebihi 0,1 ppm.
Reference sensitivity levelMengacu pada tabel dan klausul dari ETSI EN 301 511, TS 151 010-1; sensitivitas RF level untuk berbagai kelas perangkat disesuaikan.

WCDMA

AspekPersyaratan Teknis
Frekuensi radioOperasi di pita frekuensi:
– Band I: Uplink 1920–1980 MHz, Downlink 2110–2170 MHz.
– Band VIII: Uplink 880–915 MHz, Downlink 925–960 MHz.
Output powerMemenuhi batas sesuai tabel pada dokumen ETSI TS 125 141 dan ETSI TS 137 141.
Spectrum emissions maskTidak melebihi nilai sesuai tabel pada dokumen ETSI EN 301 908-2 dan ETSI TS 134 121-1.
Transmitter spurious emissionsBatasan nilai sesuai tabel pada dokumen ETSI terkait.
Reference sensitivity levelNilai BER tidak lebih dari 0,001; sesuai tabel dan klausul dalam dokumen ETSI EN 301 908-2, ETSI TS 134 121, ETSI TS 125 141.

LTE

AspekPersyaratan Teknis
Frekuensi kerja– Band 1: Uplink 1920–1980 MHz, Downlink 2110–2170 MHz.
– Band 3: Uplink 1710–1785 MHz, Downlink 1805–1880 MHz.
– Band 5: Uplink 824–849 MHz, Downlink 869–894 MHz.
– Band 8: Uplink 880–915 MHz, Downlink 925–960 MHz.
– Band 28: Uplink 703–748 MHz, Downlink 758–803 MHz.
– Band 31: Uplink 452.5–457.5 MHz, Downlink 462.5–467.5 MHz.
– Band 40: 2300–2400 MHz.
Channel bandwidthMaksimum 20 MHz per kanal.
Parameter uji utama– Maximum Output Power sesuai tabel dan dokumen ETSI TS 136 101, EN 301 908-13.
– Minimum Output Power (khusus single carrier).
– Transmitter Spectrum Emission Mask sesuai ETSI.
– Adjacent Channel Leakage Power Ratio (ACLR) sesuai ETSI.
– Transmitter Spurious Emission sesuai ETSI.
– Reference Sensitivity Level untuk throughput ≥ 95%.
– Receiver Spurious Emission sesuai ETSI.

Alat dan perangkat yang sudah dibekali fitur nirkabel maupun jaringan seluler wajib melalui pengujian teknis di laboratorium yang diakui oleh Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital (DJID) sebelum bisa beredar secara legal di Indonesia.

Tahapannya secara umum meliputi:

  1. Pengajuan sampel dan dokumen teknis: Mencakup manual pengguna, spesifikasi perangkat, serta detail fitur konektivitas.
  2. Pengujian laboratorium: Termasuk uji frekuensi, pengukuran daya pancar, serta uji kompatibilitas elektromagnetik (EMC) untuk memastikan perangkat tidak mengganggu atau terganggu oleh perangkat elektronik lainnya.
  3. Penerbitan Laporan Hasil Uji (LHU): Hasil uji ini dijadikan dasar untuk mengajukan sertifikat resmi ke DJID.

Bagi produsen, importir, maupun distributor, proses ini sering kali cukup teknis dan memakan waktu, terlebih jika baru pertama kali melakukannya. Kami memiliki layanan jasa pengurusan sertifikasi DJID profesional yang bisa membantu dari awal proses hingga terbitnya sertifikat, sehingga Anda bisa tetap fokus pada pengembangan produk dan strategi pemasaran. <UN>

FAQ

Berikut pertanyaan umum seputar alat ini:

Apa itu data logger?

Data logger adalah perangkat elektronik yang berfungsi mencatat data secara otomatis dalam periode tertentu. Perangkat ini biasanya dilengkapi sensor untuk mengukur parameter seperti suhu, kelembapan, arus listrik, atau tekanan, lalu menyimpannya untuk dianalisis.

Apa saja jenis-jenis yang umum digunakan?

Jenis alat pencatat ini bervariasi, mulai dari pencatat suhu dan kelembapan, logger tegangan dan arus listrik, hingga logger dengan konektivitas nirkabel seperti Bluetooth, GSM, WCDMA, dan LTE untuk pemantauan jarak jauh.

Apa saja aplikasi pencatat data di Indonesia?

Umumnya digunakan untuk:

  • Gudang logistik dan farmasi (monitoring suhu dan kelembapan)
  • Cold chain (transportasi rantai dingin vaksin/makanan beku)
  • Industri manufaktur (kontrol kualitas dan efisiensi energi)
  • Laboratorium (monitoring alat uji dan ruang penyimpanan sampel)
Accordion title 4

Ya, khusus alat yang dilengkapi fitur nirkabel (Bluetooth) maupun jaringan seluler (GSM, WCDMA, LTE), perangkat wajib melalui uji teknis dan sertifikasi oleh Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital (DJID) sesuai regulasi yang berlaku.

Perlu type approval untuk produk Anda?

Ceritakan produk dan negara tujuan Anda. Project handler kami akan membalas dengan persyaratan, lama proses, dan biaya.

Buat penawaran